Kebun Raya Mangrove Surabaya

Kebun Raya Mangrove Surabaya

Kebun Raya Mangrove Surabaya

Kebun Raya Mangrove Surabaya

Di kawasan Gunung Anyar oleh Pemerintah Kota Surabaya bekerjasama dengan Kemen PUPR dan Yayasan Kebun Raya Indonesia berencana membangun sebuah kawasan konservasi mangrove yang dinamakan Kebun Raya Mangrove.

Hal ini disampaikan Wali Kota Surabaya saat ini yaitu Tri Rismaharini “Kita bebaskan 30 hektar tahun ini, nanti disatukan dengan tanah milik kita yang 30 hektar juga. Tahun depan, kita bebaskan lagi sekitar 30 hektar. Yang pasti tahun ini sudah dimulai,”.

Keberadaan Kebun Raya Mangrove nantinya akan sinergi dengan Mangrove Information Center (MIC) Wonorejo, dihubungkan jembatan bambu, yang melintas di atas waduk buatan atau bozem.

Proses pembangunannya, lanjut Risma, akan didukung sepenuhnya oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Terutama, dalam menentukan jenis, usia, serta zonasi mangrove yang ditanam nantinya.

“Kita dibantu LIPI, karena nanti akan dihitung umurnya mangrove berapa yang bisa ditanam, jenisnya apa sesuai teori,” katanya.

Kepala BKSDA Jawa Timur, Suyatno Sukandar, mengatakan, wilayah Hutan Mangrove Wonorejo menjadi prioritas BKSDA Jatim untuk menjadi perhatian khusus agar ditetapkan sebagai kawasan konservasi. “Diharapkan dari pertemuan ini akan terbentuk kelompok kerja yang merekomendasikan pada Walikota Surabaya agar menetapkan wilayah tersebut menjadi kawasan khusus dan memiliki payung hukum tetap,” katanya.

Di Jawa Timur, Kabupaten Banyuwangi merupakan satu-satunya kabupaten yang telah menetapkan kawasan konservasi mangrove. Kota Surabaya nantinya bisa belajar ke Banyuwangi tentang sistem penetapan kawasan konservasi mangrove. “Dari Banyuwangi, Pemkot Surabaya juga bisa belajar ke Bali. Karena Bali kini juga jadi percontohan kawasan konservasi mangrove secara internasional,” ujarnya.

Pemkot Surabaya juga melibatkan Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia, karena selama ini terlibat langsung dalam kampanye penyelamatan mangrove di Surabaya, baik di Pantai Utara dan Timur. “Kawan-kawan KJPL itu sudah banyak dan sering mengkampanyekan upaya-upaya pelestarian mangrove dan mengungkap banyaknya perusakan mangrove di Surabaya yang dilakukan para pengembang dan oknum-oknum warga,” katanya.

Wakil Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) Alexander Sonny Kerraf mengatakan, pengembangan kawasan mangrove di pantai timur Surabaya melalui Kebun Raya Mangrove, diharapkan dapat menjadi pelindung Kota Surabaya. Utamanya, dari ancaman abrasi maupun banjir rob yang sering terjadi pada musim tertentu.

Selain itu, keberadaan Kebun Raya Mangrove diharapkan dapat meningkatkan tutupan hutan mangrove di Surabaya, sebagai sabuk pengaman kota dari ancaman tsunami maupun bencana alam lainnya. Pelaksanaannya diawali dengan membangun 60 hektar lahan yang dimiliki Pemerintah Kota Surabaya.