Air Terjun Jumog, Jawa Tengah

Wisata asik – Air terjun Jumog merupakan salah satu daya tarik wisata air terjun di lereng Gunung Lawu. Daya tarik utama air terjun ini adalah jutaan air terjun yang berbelah menjadi dua atau sering disebut sebagai air terjun kembar. Keindahannya layak disandingkan dengan wisata air terjun yang sudah cukup di sekitar karanganyar yaitu air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu.  Air terjun Terletak di Desa Benjo, Kecamatan Ngargoyoso, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Lokasi Air Terjun Jumog berada di lereng Gunung Lawu wilayah kabupaten Karanganyar. Rute termudah dengan mengikuti Jalan Raya Tawangmangu kemudian ada sebuah pertigaan kecil menuju ke jalur wisata JumogCandi SukuhKemuningCandi Cetho. Posisi pertigana kecil tersebut ditemui sebelum memasuki kawasan Wisata Alam Tawangmangu. Dari gerbang wisata, hanya sejauh 2km dengan mengambil jalan ke kanan menelusuri jalanan aspal yang cukup sempit.

Air Terjun Jumog, Jawa Tengah

Memasuki kawasan wisata Air Terjun Jumog, suasana tampak sejuk dan tenang karena tidak ramai oleh pengunjung. Area parkir tidak cukup luas dan hanya dapat ditempati untuk beberapa kendaraan beroda empat atau kendaraan bus kecil. Dari area parkir kami langsung disambut dengan pos retribusi masuk wisata Air Terjun Jumog. Setelah membayar retribusi masuk dan mengisi buku tamu, para pengunjung harus berjalan menuruni tebing. Kondisi jalan setapak yang menuruni tebing masih cukup bagus dengan pagar yang masih kokoh sebagai pengaman pengunjung dari tebing yang curam.

Perjalanan menuruni tebing tidak melelahkan seperti menuruni tebing di objek wisata Grojogan Sewu, karena selang beberapa menit kami telah tiba di tepian sungai. Kami melewati jembatan bambu yang masih baru kondisinya, mungkin beberapa fasilitas baru ditambahkan di kawasan wisata air terjun Jumog ini. Di sekitar sungai sendiri banyak dibangun tempat duduk dan taman untuk bersantai menikmati gemericik air sungai.

Air Terjun Jumog, Jawa Tengah

Kami berjalan menuju ke area air terjun Jumog dengan menelusuri jalan yang berada di tepi aliran sungai. Bermacam-macam tanaman bunga dan tanaman lain yang kami temui selama perjalanan menuju ke area air terjun membuat kami lupa dengan rasa lelah. Bunyi burung-burung liar yang banyak terdapat di kawasan air terjun membuat suasana terasa damai.

Pemandangan air terjun jumog cukup indah karena pencaran air terjun terselah menjadi dua. Suasana tampak sejuk dan segar ditambah dengan lingkungan yang cukup bersih, ketinggian air terjun yang tidak terlalu tinggi membuat beberapa pengunjung berada mendekati area dibawahnya bermain air.

Air Terjun Jumog, Jawa Tengah

Debit air terjun Jumog cukup tinggi sehingga terdengar bunyi air jatuh yang keras namun membuat suasana menjadi damai. Debit air ini tidak dipengaruhi oleh musim karena terlihat deras ketika musim kemarau walaupun kapasitasnya berkurang sedikit. Sepertinya pengelola objek wisata Air Terjun Jumug cukup serius dalam menjaga kebersihan.

Puas menikmati keindahan Air Terjun Jumog, akhirnya kami meninggalkan area air terjun untuk menuju ke sebuah gasebo untuk beristirahat sejenak.  Dalam perjalanan pulang meninggalkan area air terjun, kami diarahkan jalan yang berbeda dari jalan masuk. Kami melewati area taman bermain anak dan kolam renang yang didekatnya terdapat warung-warung makan. Harga yang ditawarkan warung-warung makan tersebut cukup terjangkau dan daftar harganya cukup jelas. Beberapa kuliner seperti sate kelinci dan sate ayam menjadi salah satu kuliner favorit di kawasan ini. Selain itu, kawasan wisata Air Terjun Jumog ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap lain taman, outbound, kolam renang, mainan anak dan gazebo.

Air Terjun Jumog

Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah

Retribusi

Tiket Masuk: Rp 4.000,-

Parkir Motor: Rp 2.000,-

Parkir Mobil: Rp 10.000,

Baca juga:

Tempat Wisata The Lost World Castle

The Lost World Castle , Jogja memang selalu asyik. Wisatanya pun semakin berkembang. Setelah wisata Tebing Breksi yang masih nge-hits itu, The Lost World Castle digadang-gadang menjadi destinasi favorit wisata jogja terbaru. Tempat wisata ini seringkali disangka sebagai waterboom padahal bukan. The Lost World Castle sebenarnya termasuk obyek wisata edukasi yang menjanjikan banyak informasi dan pengetahuan bagi pengunjung nantinya.

Tidak mengherankan kalau tempat wisata ini cepat menjadi terkenal dan viral di media sosial. Bentuk bangunan atau arsitekturnya memang unik. Dari luar, bentuknya memang seperti kastil, sesuai dengan namanya. Banyak yang bilang The Lost World Castle mirip sekali dengan Benteng Takeshi yang ada di acara reality show terkenal dari Jepang itu. Beberapa orang juga menyebut bangunan ini mirip dengan The Great Wall atau tembok besar dari Cina.

Tempat Wisata The Lost World Castle

Bangunan The Lost World Castle memang memiliki tembok berwarna kelabu yang tinggi dengan pos-pos penjagaan setiap beberapa meternya. Mirip seperti benteng sebelum memasuki wilayah kerajaan atau kompleks istana. Ide bentuk bangunan ini harus diakui cerdas secara komersial karena sukses menarik perhatian pengunjung bahkan sebelum tempat ini resmi dibuka.

The Lost World Castle dibangun di atas lahan seluas 1,3 hektar di desa Kepuharjo. Daerah ini pernah hangus dilalap erupsi Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu. Seolah-olah ingin mengingatkan akan dahsyatnya bencana tersebut, tempat ini disebut sebagai The Lost World atau dunia yang sudah hilang.

Tempat Wisata The Lost World Castle

Ternyata, The Lost World Castle sudah soft opening sejak tanggal 19 Januari lalu. Tadinya, tempat ini terbuka begitu saja untuk umum. Pengunjung belum diminta untuk membayar tiket masuk pada saat itu. Setelah soft opening, pengunjung sudah mulai membayar tiket masuk walaupun masih dengan harga diskon. Menurut keterangan yang tertera pada tiket, harga tiket masuk sebenarnya adalah Rp 60.000,00 per orang. Namun selama masa soft opening, pengunjung mendapat diskon hingga 75% sehingga hanya perlu membayar Rp 15.000,00 per orang. Dibandingkan dengan sebagian besar tempat wisata di Yogyakarta lainnya, harga tiket ini termasuk mahal. Semoga saja fasilitasnya sama menariknya nanti.

Selain biaya tiket, pengunjung The Lost World Castle juga perlu membayar retribusi sebesar Rp 6.000,00 dan parkir Rp 2.000,00. Kalau-kalau kemalaman dan harus menginap, pengunjung bisa mencari penginapan terdekat dengan tarif sekitar Rp 50.000,00 per malam. Karena belum selesai dibangun, belum ada restoran atau kafe kecil di lokasi wisata.

Tempat Wisata The Lost World Castle

Sempat disingggung di atas, tempat wisata ini berada di kawasan wisata sleman Desa Kepuharjo yang sempat habis dilalap erupsi Gunung Merapi beberapa tahun lalu, tepatnya di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Lokasinya memang cukup jauh dari pusat kota dan berada tepat di lereng Gunung Merapi. Tetapi sebenarnya, tempatnya tidak jauh dari lokasi wisata Kaliadem yang tidak kalah populernya dan Merapi Golf. Yang mengejutkan lagi, The Lost World Castle ternyata sudah terdeteksi di Google Map, jadi tidak susah menemukan rute ke sana.

Walaupun jauh, rute menuju The Lost World Castle sederhana saja. Dari mana saja di Yogyakarta, kita cukup menuju Jalan Kaliurang dan terus berjalan ke arah Utara, atau ke arah Gunung Merapi kalau tidak tahu arah mata angin. Dari Jalan Kaliurang, kita tinggal mengikuti petunjuk untuk menuju Kaliadem. Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan melalui Jalan Bebeng sampai ke kopi merapi. Setelah melewati Kopi Merapi, perjalanan dilanjutkan ke arah Timur. Tidak lama, bangunan berbentuk benteng ini akan terlihat dari kejauhan. Pengunjung bisa naik kendaraan umum seperti bis dan angkot, tetapi akan lebih leluasa membawa kendaraan pribadi seperti motor yang lebih lincah dan cepat.

Baca juga:

Air terjun Kedung Kayang terletak diantara gunung Merapi & gunung Merbabu, berada di 950m dari permukaan air laut yang letaknya diantara kabupaten Magelang dan Boyolali. Tinggi air terjun Kedung Kayang sekitar 40 meter, yang saya suka dari air terjun ini adalah sangat deras dan cukup dingin. Air terjun Kedung Kayang terletak sekitar 3km dari gardu pandang Ketep pass, dimana jika ketep pass ambil jalan menanjak, maka jika ingin menuju air terjun Kedung Kayang ambil jalan disebelah kanan yang berupa turunan hungga menemukan palang arah Kedung Kayang. Untuk menuju air terjun Kedung Kayang tidaklah sulit, selain mudah dijangkau dan tidak terlalu jauh, kondisi jalanannya pun cukup lebar dan sudah tertata sehingga sangat bisa untuk dilalui roda 2 maupun roda 4.

Sesampainya di lokasi wisata kami memarkir kendaraan kami ditempat parkir yang sudah disediakan dan membayar tiket masuk dengan harga Rp 2.500,-. Dari tempat parkir kami harus berjalan kaki menuju air terjun, jalan yang kami lalui sudah dikonblok rapi, dan nyaman dilalui. dari kejauhan sudah terdengar gemuruh suara air terjun dan dari balik pepohonan kami melihat air terjun Kedung Kayang tepat dibawah kami, namun jalan yang kami lalui harus memutar dan ternyata cukup jauh.

Dibeberapa lokasi menuju air terjun sudah disediakan gubug-gubug kecil untuk beristirahat sejenak, karena memang cukup berat dilalui untuk wisatawan umum yang jarang beraktifitas di alam (termasuk saya). Setelah melalui jalan turunan sekitar 15menit kami tiba di hulu sungai dari air terjun Kedung kayang, perjalan kami selanjutnya adalah susur sungai menuju Kedung kayang. Bukit hijau dikanan-kiri kami seolah melupakan rasa lelah kami. setelah berjalan sekitar 10 menit sampailah kami di air terjun kedung Kayang.

Air terjun yang sangat indah dan sangat deras dan sangat kebetulan tidak ada orang lain selain kami ketika kami sampai dilokasi. Kami mulai berfoto narsis mengabadikan perjalan kami di air terjun nan deras ini mumpung sepi. Air terjun yangberasal dari 4 mata air ini memiliki debit air yang deras sepanjang tahun dan bahkan dimusim kemarau pun masih mengalir.

Kedung Kayang terdapat keunikan dan keanehan tersendiri, yaitu bila di bulan Suro (muhharom) pada hari malam Jum’at Kliwon sering terdengar suara/ alunan Gamelan Jawa dan pada hari Kamis Wage semua kera-kera yang ada di sekitar Kedung Kayang berkumpul di atas air terjun tersebut. Dan masih banyak keajaiban yang lain yang sering ditemui oleh masyarakat setempat maupun pengunjung yang berada di Kedung Kayang.

Setelah puas menikmati keindahan air terjun Kedung Kayang dan pakaian kami sudah basah kuyup, padahal kami tidak berenang, tapi dari cipratan dari air terjun Kedung Kayang. Untuk kembali ke tempat parkir kami harus melalui rute yang sama seerti ketika kami datang tadi, kami harus menyusuri hulu sungai dan setelah itu menaiki bukit hingga sampai tempat parkir. Beberap kali saya berhenti karena ini sangat melelahkan karena semua kesenangan dan tenaga kami sudah kami habiskan di air terjun tadi.

Baca juga:

Pulau Komodo terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo . Pulau Komodo berada di sebelah barat Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape, termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pulau Komodo, tempat hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Pulau Gili Motang, jumlah keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. diperkirakan sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.

Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam, pohon kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak (sterculia oblongata) ini di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong

Pulau Komodo  sangat mengesankan , menelusuri pulau yang eksotis, menyelami birunya laut, dan bermandikan cahaya mentari sambil melihat jejak-jejak kehidupan masa lalu yang terpelihara dan akan  menjadi bagian dari ragam keindahan Indonesia.

Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo

Meliputi Pulau Komodo, Rinca and Padar, ditambah pulau-pulau lain seluas 1.817 persegi adalah habitat asli komodo. Taman Nasional Komodo didirikan pada 1980 untuk melindungi kelestarian komodo. Tak hanya hewan langka tersebut, Taman Nasional Komodo juga untuk melindungi berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan satwa, termasuk binatang-binatang laut.

UNESCO mengakui sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986. Bersama dua pulau besar lainnya, yakni Pulau Rinca dan Padar, Pulau Komodo dan beberapa pulau kecil di sekitarnya terus dipelihara sebagai habitat asli reptil yang dijuluki “Komodo”.

Sejarah

Komodo yang dijuluki Komodo dragon atau Varanus Komodoensis atau nama lokal “Ora”, kadal raksasa ini menurut cerita dipublikasikan pertama kali pada tahun 1912 di harian nasional Hindia Belanda. Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor adalah orang yang telah mengenalkan komodo kepada dunia lewat papernya itu. Semenjak itu, ekspedisi dan penelitian terhadap spesies langka ini terus dilakukan, bahkan dikabarkan sempat menginspirasi Film KingKong di tahun 1933. Menyadari perlunya perlindungan terhadap Komodo di tengah aktivitas manusia di habitat aslinya itu, pada tahun 1915 Pemerintah Belanda mengeluarkan larangan perburuan dan pembunuhan komodo.

Pulau Komodo masuk 28 finalis yang dipilih oleh sebuah panel ahli dari 77 nominasi. Sebelumnya ada 261 lokasi di dunia yang dicalonkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Pulau Komodo, yang jadi andalan Indonesia dalam ajang New7Wonders of Nature punya keunggulan di banding lokasi-lokasi lainnya, apalagi kalau bukan komodo, satwa langka yang dipercaya sebagai ‘dinosaurus terakhir di muka bumi’. Kampanye ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai alam, tak hanya yang ada di lingkungan kita tapi juga di seluruh dunia. serta didedikasikan untuk generasi di masa depan.

Komodo yang dikenal dengan nama ilmiah Varanus komodoensis adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Oleh penduduk setempat, komodo kerap disebut Ora.

Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.

Komodo ditemukan pada 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional didirikan untuk melindungi mereka.

Sebenarnya daya tarik Taman Nasional Komodo tidak semata-mata oleh kehadiran Komodo belaka. Seperti yang saya kutip dari situs resmi Kementerian Kehutanan yang mengelola situs Taman Nasional Komodo ini, panorama savana dan pemandangan bawah laut merupakan daya tarik pendukung yang potensial. Wisata bahari misalnya, memancing, snorkeling, diving, kano, bersampan. Sedangkan di daratan, potensi wisata alam yang bisa dilakukan adalah pengamatan satwa, hiking, dan camping. Mengunjungi Taman Nasional Komodo dan menikmati pemandangan alam yang sangat menawan merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.

Baca juga:

Green Canyon adalah tempat yang tidak akan dilewatkan saat mengunjungi daerah Pangandaran. Hal ini tidak berlebihan karena tempat wisata ini menawarkan keunikan yang sulit didapat dari tempat wisata lainnya. Pemandangan indah dan keasrian ditawarkan di Green Canyon yang sebelumnya bernama Cukang Taneuh.

Green Canyon

Green Canyon

Tempat wisata Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Ciamis, Jawa Barat, kurang lebih 31 km dari Pangandaran. Nama Green Canyon dikenalkan oleh wisatawan dari Prancis. Warna air sungai yang kehijauan mungkin menjadi alasan tempat ini disebut Green Canyon. Sedangkan nama sebelumnya, Cukang Taneuh berarti jembatan tanah karena adanya jembatan dengan lebar 3 meter dan panjang mencapai 40 meter yang menghubungkan antara Desa Kertayasa dengan Desa Batukaras.

Sungai Cijulang

Sungai Cijulang

Yang menjadi tujuannya adalah terowongan menyerupai gua yang berada di bawah jembatan tanah yang dikenal dengan Gua Green Canyon. Untuk mencapai gua tersebut, Anda harus menyusuri sungai Cijulang menggunakan perahu yang disebut sebagai ketinting. Perahu ini hanya mampu ditumpangi oleh 5 penumpang. Harga sewa perahu atau ketinting sebesar Rp 75.000,- per perahu. Waktu yang diperlukan untuk melakukan perjalanan yang dimulai dari dermaga Ciseureuh menuju gua kurang lebih 30 menit.

Di sisi aliran sungai Cijulang Anda dapat menikmati tebing bukit yang ditumbuhi hijaunya pepohonan yang rimbun dan bebatuan yang menghiasinya. Perjalanan tidak akan membosankan karena pemandangan yang indah dan santainya menikmati aliran sungai. Naik ketinting juga dapat menciptakan keunikan tersendiri, khususnya untuk anak-anak yang menyenangi air.

Saat hampir sampai, jalur akan menyempit sehingga perahu harus bergantian untuk memasuki jalur ini. Ada pula pengatur yang memberi arahan untuk para pengemudi perahu agar dapat melaju dengan tertib. Mendekati mulut gua, ketinting tidak dapat lagi untuk mengantarkan Anda dan rombongan karena jalur yang tidak mungkin dilalui.

Gua Green Canyon

Gua Green Canyon

Pemandangan yang indah menanti Anda setelah turun dari perahu. Anda dapat menikmati sisi gua yang kokoh dengan melihat stalagtit dan stalagmit yang masih meneteskan air. Air terus menerus dikeluarkan di tebing sehingga daerah ini disebut sebagai daeah hujan abadi. Anda juga dapat berenang dalam gua dengan menggunakan pelampung. Anda akan merasakan air yang terasa dingin dan menyegarkan. Pemandangan semakin cantik ketika menyaksikan air terjun Palatar yang terdapat dalam Gua Green Canyon. Berenang di air yang dingin sambil menikmati tebing-tebing tinggi dan melihat stalagtit dan stalagmit pasti merupakan pengalaman tersendiri yang tidak terlupakan.

Green Canyon atau Cukang Taneuh memang merupakan tempat wisata yang indah di daerah Pangandaran. Tetapi, bila Anda berniat mengunjungi tempat ini sebaiknya berkunjung pada musim kemarau karena pada musim ini, air sungai Cijulang berwarna hijau tosca. Sedangkan pada musim hujan, saat curah hujan tinggi, air sungai akan berwarna coklat. Selain itu pada musim hujan ada kemungkinan air sungai akan pasang atau aliran air sungai yang terlalu deras sehingga tempat ini ditutup untuk umum demi keselamatan pengunjung.

Baca juga: