Wisata Palembang Yang Paling Hits Saat Asian Games 2018

Mau ke Palembang dan tertarik untuk nonton Asian Games 2018 ? Yuk datang, karena sejumlah wisata kekinian dapat menarik perhatian anda. Asian Games 2018 yang dilaksanakan di Jakarta-Palembang nampaknya berdampak pada beberapa tempat wisata di Palembang. Ajang terbesar ini kebetulan mengambil tempat di dua kota, Jakarta dan Palembang. Nah Palembang yang menjadi tuan rumah juga menyuguhkan beberapa tempat wisata yang langsung menarik perhatian para penonton dan pendukung.

Berikut adalah Wisata Palembang Yang Paling Hits Saat Asian Games 2018

Jembatan Ampera, ikon populer tempat wisata di Palembang

Belum ke Palembang kalau belum mengunjungi Jembatan Ampera. Jembatan yang terletak di atas Sungai Musi ini selalu menunjukkan keindahan dan pesonanya saat diterpa cahaya bulan di malam hari. Cahaya lampu warna-warni yang memancar dari tali Jembatan Ampera ditambah dengan lampu kendaraan yang tengah lalu lalang seakan-akan terus memanggil kamu untuk segera berfoto di dekatnya.

Lokasi : Jl. Lintas Timur Sumatera, 9 Ulu, Seberang Ulu I, Kota Palembang

Pulau Kemaro

Masih berada di sekitaran Sungai Musi, Pulau Kemaro ini juga seringkali menjadi tempat wisata di Palembang yang favorit. Di pulau ini terdapat klenteng yang sering digunakan oleh penganut agama Buddha untuk beribadah.

Kambang Iwak

Kambang iwak merupakan taman yang memiliki danau indah dan terletak dekat dengan pusat kota. Di akhir pekan, terutama pada Minggu pagi, taman ini akan sangat ramai dikunjungi warga Palembang untuk berolahraga.

Lokasi : Jl. Ki Ranggo Wirosantiko, Talang Semut, Bukit Kecil, Kota Palembang

Kampung Kapitan

Menurut sejarah, Kampung Kapitan merupakan daerah di Palembang yang pertama kali ditempati oleh warga Tionghoa, bahkan masih pada zaman penjajahan Belanda. Karena sarat akan sejarah, kampung ini pun akhirnya oleh pemerintah Palembang dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata.

Lokasi : Jl. KH Azhari – Dermaga 7 Ulu, palembang, 7 Ulu, Seberang Ulu I, Kota Palembang

Monumen Perjuangan Rakyat Palembang

Terletak di pusat kota, Monumen Perjuangan Rakyat Palembang berdiri tegak dan dihiasi dengan lambang garuda Indonesia yang berukuran cukup besar. Monumen ini menyimpan berbagai kisah perjuangan masa lalu yang terjadi pada rakyat Palembang saat berperang melawan penjajah selama lima hari lima malam.

Lokasi : Jl. Merdeka No.1, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang

Air Terjun Curup Maung

Di Kota Palembang sendiri, ada Air Terjun Curup Maung yang memiliki keindahan yang eksotik. Air terjun ini mempunyai ketinggian yang mencapai 80 meter dan dikelilingi oleh rerumputan hijau lebat, sehingga tampak sangat alami. Meskipun seringkali ramai dikunjungi wisatawan, keindahan dari air terjun curup maung tetap masih terjaga.

Lokasi : Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang

Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak berlokasi tak jauh dari Jembatan Ampera. Suasana di malam hari sangatlah cocok untuk para pengunjung karena ramai dengan masyarakat yang berjualan. Tepat di depan benteng, berlabuh restoran terapung yang menyajikan aneka makanan tradisional di dalam kapal dengan harga yang bersahabat.

Lokasi : Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang

Berjalan di Jembatan Ampera

Berjalan di Jembatan Ampera

Jembatan Ampera merupakan sebuah jembatan yang berada di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang menjadi lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Sejarah Singkat
Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.

Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.

Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Keelokan Jembatan
Malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk menikmati keindahan Jembatan Ampera Palembang ini. Jembatan Ampera Palembang dihiasi lampu-lampu yang merupakan daya tarik sendiri bagi wisatawan. Lampu hias yang mengelilingi jembatan ini dapat berubah-ubah warna setiap berapa detik sekali.

Bagi yang menyukai bidang fotografi sering menjadikan Jembatan Ampera Palembang sebagai objeknya. Sungai Musi yang membentang di sepanjang areal Jembatan Ampera Palembang menjadi pemandangan yang indah, tak kalah indah dari kerajinan songket-nya yang sudah melegenda. Wisata kuliner yang khas dari kota Palembang pun berada di sekitar Jembatan Ampera Palembang ini.