Air Terjun Sekeper – Lombok Utara

Beberapa sumber menyebutkan bahwa air terjun yang terletak di dusun waker, desa santong kecamatan kayangan kabupaten lombok utara ini memiliki ketinggian sampai 113 meter ( hasil pengukuran Mapala FKIP Unram ). Wow.. berbeda jauh dengan tinggi kebanyakan air terjun di lombok yang rata-rata hanya memiliki ketinggian dua puluh sampai empat puluh meter saja.

Butuh sekitar empat jam perjalanan untuk bisa menginjakkan kaki di air terjun sekeper ini jika kita berangkat dari arah mataram menggunakan sepeda motor. Melewati rute mataram – pusuk – santong akan memakan waktu sekitar dua jam. anda bisa memarkir kendaraan anda di depan gerbang masuk tiu teja tentunya setelah anda membayar tiket masuk yang tergolong murah sebesar Rp. 3000/orang dan retribusi parkir sejumlah Rp. 5.000/ kendaraan di gerbang utama.

setelah memastikan kendaraan anda dalam keadaan aman, maka inilah saatnya menyiapkan diri untuk memulai petualangan. hiyaat!! Di awal perjalanan kita akan melewati hutan yang banyak ditumbuhi kopi liar, kebun kakao, bahkan strawberry pun ada brothers.. untuk catatan saja ya, strawberry hanya bisa anda temukan jika anda beruntung . so.. jangan berharap banyak! kita juga akan menemukan sebuah jembatan kayu tua yang sudah lapuk. untuk alasan keamanan, saya tidak menganjurkan anda untuk berjalan diatasnya. saya lebih menyarankan sobat untuk berjalan melintasi sungai lewat bawah jembatan elanjutnya setelah sampai di check point pertama kita akan menemukan “Bunut Ngengkang”. kata bunut adalah bahasa sasak yang artinya beringin dan kata ngengkang dalam bahasa indonesia berarti ngangkang.

jadi bisa diartikan sebagai bunut ngangkang. Bunut ngengkang ini bentuknya memang seperti sedang ngangkang, terbentuk dari dua pohon beringin yang menjulang tinggi yang kemudian kedua ujungnya bergabung menjadi satu. wah.. ini adalah spot wajib untuk pencitraan diri *you know what i mean lah.. Setelah melewati check point pertama tadi, jalan akan terus menanjak, ritme nafas dan langkah pun harus dijaga agar stamina tetap terjaga. karena selama perjalanan kita akan menerobos rimba, menjejakkan ribuan langkah kaki di atas jalan setapak yang sangat sempit, terjal, dan tentunya licin.

tetaplah waspada dan hati-hati karena di samping kanan anda adalah jurang yang siap mengakhiri kisah anda. haha.. Anda juga perlu mewaspadai sebuah tanaman liar bernama jelateng. bagian yang berbahaya dari jelateng ini adalah daunnya yang bisa membuat kulit menjadi gatal dan terbakar selama dua hari. jadi, sebisa mungkin untuk menghindari kontak dari dedaunan di sepanjang rute. Ketika perjuangan telah berakhir, saatnya memanjakan mata kita dengan panorama yang wow banget. disana ada aliran sungai yang airnya jernih banget, gak ada sampah sedikitpun. airnya pun super duper dingin dan menyegarkan. Letih dua jam jalan kaki dijamin hilang seketika.

Baca juga:

Taman Nasional Gunung Rinjani Lombok

Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) adalah salah satu ekosistem dengan tipe hutan hujan pegunungan dan savana yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. TNGR ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.280/Kpts-II/1997 dengan luas 40.000hA walaupun dilapangan luasnya lebih dari 41,000hA.

Keanekaragaman hayati

TNGR memiliki ragam flora antara lain; Jelatang (Laportea Stimulans), Dedurenan (Aglaea Argentea), Bayur (Pterospermum Javanicum), Beringin (Ficus Benjamina), Jambu-jambuan (Syzygium sp) Keruing (Dipterocarpus Hasseltii), Rerau (D. Imbricatus), Cemara Gunung (Casuarina Junghuniana)Eidelweis (Anaphalis Javanica) dan beberapa macam anggrek hutan endemik yaitu Perisstylus Rinjaniensis dan P.Lombokensis. Sementara ragam fauna yang dimiliki oleh TNGR adalah antara lain; Musang Rinjani (Paradoxurus Hemaprhoditus Rinjanicus), Rusa (Muntiacus Muntjak Nainggolani), Lutung budeng (Trachypithecus auratus kohlbruggei), Trenggiling (Manis Javanicus), burung Cikukua Tanduk (Philemon Buceroides Neglectus), Dawah Hutan (Ducula Lacernulata Sasakensis), Kepodang Kuduk Hitam (Oriolus Chinensis Broderipii) dan beberapa jenis reptilia ditambah sejumlah jenis ikan air tawar yang hidup di danau Segara Anak, antara lain; Mujair dan Karper.

Topografi

Pada kepundan pegunungan (2.800mdpl) terdapat kawah mati akibat letusan gunung Rinjani yang (diperkirakan terjadi pada zaman Plistosen <1,8 juta tahun yang lalu, BTNGR) membentuk sebuah danau yang sangat luas (1.100hA)dengan pemandangan yang indah. Danau tersebut disebut Danau Segara Anak, dari bahasa Sasak kurang lebih berarti Laut Kecil. Cukup menggambarkan luas dari danau tersebut. Kedalaman air danau diperkirakan sekitar 160m – 230m. Suhu air danau beragam dari sisi lain ke sisi yang lain. Air danau ada yang berbau belerang yang sangat kuat sehingga mirip seperti moffet yang sangat berbahaya tapi adapula yang berbau seperti air pegunungan. Di tengah danau Segara Anak muncul sebuah gunung baru yang disebut Gunung Baru Jari. Gunung Baru Jari ini dipercaya bertambah tinggi dalam setiap tahunnya. Curah hujan rata – rata di kawasan ini adalah 2.000ml/tahun dengan letak ketinggian dari 550mdpl – 3.726mdpl.

Mitos

Gunung Rinjani menyimpan sejumlah misteri. Salah satu misteri terbesarnya adalah Dewi Anjani. Dewi Anjani konon adalah keturunan langsung Raja Selaparang hasil dari pernikahan sang Raja dengan mahkluk halus yang bermukim di gunung Rinjani ketika dia memohon hujan untuk daerahnya karena kekeringan panjang yang melanda kerajaan Selaparang pada masa itu. Karena itulah sampai saat ini masyarakat suku Sasak dan Hindu Dharma di pulau Lombok sering melakukan ritual Mulang Pekelem yaitu ritual memohon hujan kepada Dewi Anjani dengan memberikan sesembahan berupa lempengan emas yang berbentuk segala macam mahkluk air dengan cara ditenggelamkan ke danau Segara Anak.

Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan rendah hingga pegunungan tinggi dan savana di Nusa Tenggara.

Potensi tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Gunung Rinjani antara lain jelutung (Laportea stimulans), dedurenan (Aglaia argentea), bayur (Pterospermum javanicum), beringin (Ficus benjamina), jambu-jambuan (Syzygium sp.), keruing (Dipterocarpus hasseltii), rerau (D. imbricatus), eidelweis (Anaphalis javanica), dan 2 jenis anggrek endemik yaitu Perisstylus rintjaniensis dan P. lombokensis.

Selain terdapat satu jenis mamalia endemik yaitu musang rinjani (Paradoxurus hemaproditus rinjanicus), juga terdapat kijang (Muntiacus muntjak nainggolani), lutung budeng (Trachypithecus auratus kohlbruggei), trenggiling (Manis javanica), burung cikukua tanduk (Philemon buceroides neglectus), dawah hutan (Ducula lacernulata sasakensis), kepudang kuduk hitam (Oriolus chinensis broderipii), dan beberapa jenis reptilia.

Pada lembah di sebelah barat Gunung Rinjani terdapat Danau Segara Anak (2.008 m. dpl) yang airnya berbau belerang, suhunya berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Luas danau tersebut sekitar 1.100 hektar, kedalaman antara 160 – 230 meter. Di tengah-tengah danau ini muncul gunung baru vulkanik yang masih aktif dan terus berkembang.

Gunung Rinjani yang merupakan gunung tertinggi ketiga di Indonesia (3.720 m. dpl), menyimpan berbagai misteri salah satu diantaranya yaitu tentang keberadaan Dewi Enjeni. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Dewi Enjeni adalah Ratu jin penguasa Gunung Rinjani. Mereka meyakini bahwa Dewi Enjeni lahir dari perkawinan manusia Sasak dengan jin, berparas cantik dan masih keturunan Raja Selaparang. Untuk menghormati Dewi Enjeni, masyarakat sering mengadakan upacara religius di Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, dengan melepaskan ikan-ikan kecil yang terbuat dari emas tipis ke Danau Segara Anak.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

Puncak Gunung Rinjani. Mendaki gunung, berkemah dan menikmati panorama alam Pulau Lombok.

Danau Segara Anak, Sebau dan Gunung Baru. Penelitian, menikmati fenomena alam/gejala alam, sumber air panas, mandi, pengamatan satwa dan menjelajahi hutan. Pada bulan Maulud, di Danau Segara Anak sering dijadikan atraksi budaya Pakelem (memandikan keris).

Otakkokoq dan Kembang Kuning. Mandi air panas yang berbau belerang untuk pengobatan (penghalus kulit) dan air terjun.

Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu;Perang Topat pada bulan Desember dan Ciwaratri pada bulan Januari di Mataram.

Musim kunjungan terbaik: bulan Agustus s/d Desember setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi:

Mataram – Selong – Sambelia – Sembalun Lawang (140 km) sekitar 4,5 jam dengan mobil. Bila berjalan kaki ke danau memerlukan waktu selama 9 jam (25 km). Mataram – Bayan – Senaru (82 km) sekitar 2,5 jam, jalan kaki ke danau selama 9 jam (25 km). Mataram – Bayan – Torean (85 km) sekitar 2,5 jam, jalan kaki ke danau selama 7,5 jam. Mataram – Masbagik – Kutaraja – Tetebatu (60 km) sekitar 1,5 jam, jalan kaki ke Otakkokoq selama 30 menit.

Baca juga:

Air Terjun Kerta Gangga Lombok

Air Terjun Kerta Gangga berada di Dusun Kerta Desa Genggelang Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara (KLU). Di tempat ini terdapat tiga air terjun. Ketiga air terjun tersebut bisa kita nikmati dalam satu kali kunjungan. Akses jalannya cukup bagus, dari Tanjung yang merupakan pusat pemerintahan KLU menuju timur ke Desa Gondang. Di sebelah kanan jalan terdapat penunjuk arah ke air terjun tepat di pertigaan jalan.

Dari tempat ini, kira tujuh kilo meter lagi Anda tiba di tempat yang kita tuju. Jalannya berhotmix namun tidak terlalu lebar. Di beberapa titik terdapat jalanan berpasir. Bahayanya pasir tersebut terdapat pada kelokan-kelokan. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati. Sepanjang jalan ini banyak tanjakan dan penurunan berkelok yang tidak terlalu tajam. Namun demikian, Anda tetap harus berhati-hati mengingat ruas jalan yang tidak lebar. Selain itu, di sebelah kanan jalan terdapat panorama barisan bukit hijau berlatar pemandangan laut biru indah yang siap menggangu konsentrasi berkendara. Pastikan Anda tidak tergoda menikmatinya sambil berkendara. Anda harus mengutamakan keselamatan.

Setelah beberapa kilometer melintasi jalan berhotmix, saatnya belok kanan memasuki Dusun Kerta.Untuk memasuki jalan ini sekali lagi harus berhati-hati karena posisinya pas di tanjakan berkelok. Pengendara yang datang dari arah berlawan tidak dapat melihat Anda yang akan memotong jalan. Biasanya pengguna jalan ini memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi.

Dari pintu masuk Dusun ini, dua kilo meter lagi Anda akan tiba di Air Terjun Kerta Gangga. Jalan menuju Dusun tersebut merupakan rabatan yang menurun kemudian menanjak. Tepat di tanjakan tersebut terdapat pertigaan dan silahkan ambil kiri untuk arah Air Terjun Kerta Gangga. Setelah melewati jalan di pemukiman penduduk, Anda masih akan melintasi jalan sepanjang beberapa ratus meter sebelum tiba di tempat parkir.

Parkir mobil di sebelah kiri sedangkan sepeda motor di sebelah kanan dengan biaya hanya dua ribu rupiah rupiah per sepeda motor dan biaya masuk hanya empat ribu rupiah per orang (tarif tahun 2013). Di tempat parkir terdapat penjual buah-buahan seperti rambutan dan durian. Dari tempat parkir menuju air terjun, Anda akan melintasi persawahan dengan pemandangan alam yang menakjubkan, persawahan hijau dengan sebuah berugak tinggi milik petani. Pemandangan ini semakin menakjubkan karena berlatar air terjun pertama dan dua. Pemandangan ini sangat menggoda untuk dijadikan objek photografi. Selanjutnya, Anda akan menanjaki anak tangga yang cukup panjang untuk sampai di air terjun pertama, tentunya ini akan cukup menguras tenaga dan membuat tenggorokan haus. Oleh karena itu, Anda disarankan membawa air mineral sendiri sebab di tempat ini tidak ada pedagang asongan. Di samping anak-anak tangga pertama, tersedia dua berugaq berlantai keramik dan beratap merah sebagai tempat beristirahat atau bersantai pengunjung. Kedua berugaq itu kira-kira berukuran 2×2 Meter.

Air Terjun Pertama

Letih yang disebabkan penitian anak tangga yang cukup banyak akan terbayar oleh keindahan air terjun pertama. Selain kesejukan dan keindahan air terjun pengunjung juga akan dimanjakan oleh pemandangan yang memesona dari arah timur: ada persawahan bagai lukisan dikelilingi bukit dari sisi kiri dan kanan, kemudian ada hamparan biru laut Jawa.

Jika cuaca tidak berkabut, dari sini kita juga bisa melihat tiga gili. Air terjun pertama ini cukup tinggi dan memiliki kemiringan sekitar 45 derajat sehingga memungkinkan Anda mendaki sampai puncak air terjun tanpa alat bantu pendakian. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasikan keindahan air terjun dari berbagai angle yang diinginkan baik dari sisi bawah, samping bahkan sisi atas air terjun. Kolam air terjun pertama sangat dangkal sehingga aman untuk anak-anak bahkan balita sekalipun.

Air Terjun Dua

Untuk bisa menikmati keindahan air terjun kedua, tidak mememerlukan tenaga yang banyak. Lokasinya hanya beberapa meter di belakang air terjun pertama. Cukup dengan menyeberangi kolam air terjun pertama dan sedikit berjalan di bawah tebing bebatuan. Anda sudah sampai di lorong berjembatan berbahan besi dengan pegangan besi di sisi kanan dan palang pengaman dari bambu di sisi kiri. Air terjun kedua seolah berada di dalam gua karena dikelilingi tebing bebatuan yang curam. Hanya ada celah tebing selebar kurang lebih dua meter sebagai pintu masuk. Kolamnya cukup dalam dan cukup menantang. Kerena lokasinya yang tersembunyi inilah air terjun denga ini disebut juga Hidden Pool. Agar bisa menikmati pijatan air terjun kedua, Anda harus berenang menyeberangi kolam kurang lebih sejauh 10 meter.

Air Terjun Tiga

Air terjun yang satu ini sering kali tak tekunjungi oleh wisatawan karena lokasinya yang cukup jauh dari air terjun I & II. Untuk mencapainya kita harus turun dahulu dari air terjun Pera\tama & Dua. Kemudian berjalan memutar melintasi persawahan dan berjalan menurun. Sebenarnya air terjun Tiga merupakan terusan aliran dari air terjun Dua.

Lokasi

Terletak di Dusun Kertaraharja, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 42 km arah utara dari kota Mataram dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam saja, atau kurang lebih 7 km dari pusat pemerintahan Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Rute perjalanan sebagai berikut Mataram- Pemenang-Tanjung-Gondang-Lendang Bagian-Penjor-Kertaraharja.

Untuk mencapai lokasi objek wisata tersebut, dapat mempergunakan kendaraan roda dua atau roda empat dengan kondisi jalan relatif baik, hanya pada 2 km terakhir menjelang tiba di lokasi jalannya kurang bagus.

Selanjutnya dari areal parkir perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki melewati jalan yang menanjak sejauh kira-kira 500 m (sekitar 10 menit waktu tempuhnya) hingga tiba di lokasi air terjun berada.

Baca juga: